Adegan dalam Ketoprak Lesung

Adegan dalam Ketoprak Lesung

Sesuai dengan namanya, alat musik yang dipergunakan dalam Ketoprak ini terdiri dari lesung, kendang, terbang dan seruling.

Ceritera yang dibawakan adalah kisah-kisah rakyat yang berkisar pada kehidupan di pademangan – pademangan, ketika para demang membicarakan masalah penanggulangan hama yang sedang melanda desa mereka atau ceritera-ceritera tentang Pak Tani dan Mbok Tani dalam mengolah sawah mereka.

Oleh karena itu kostum yang dipakaipun seperti keadaan mereka sehari hari sebagai penduduk pedesaan, ditambah dengan sedikit make up yang bersifat realis.
Untuk mementaskan Ketoprak Lesung dibutuhkan pendukung sebanyak ± 22 orang, yaitu 15 orang untuk pemain (pria dan wanita) dan 7 orang sebagai pemusik.
Dalam pertunjukan ini tidak dikenal adanya vokalis khusus atau waranggana.
Vokal untuk mengiringi musik dilakukan bersama-sama baik oleh pemusik maupun pemain. Pertunjukan Ketoprak Lesung ini menggunakan pentas berupa arena dengan desain lantai yang berbentuk lingkaran.

Read the rest of this entry »

Salah satu peserta Kirab Budaya "Kluwung Budaya Kampung" 2009

Salah satu peserta Kirab Budaya "Kluwung Budaya Kampung" 2009

Masyarakat Dusun Samirono, Desa Catur Tunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, siap menggelar kegiatan budaya bersih desa ‘Kluwung Budaya Kampung’ pada 15 Sapar (kalender Jawa) atau 1 Februari 2009.

Ketua Panitia Budi Santoso, Kamis mengatakan kegiatan yang mengambil tema “Hamemayu Hayuning Bawono” (memelihara kelestarian alam) ini dimaksudkan sebagai wujud syukur atas berkah dan rejeki yang diterima warga padukuhan Samirono sekaligus permohonan keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan.

“Kegiatan ini merupakan realisasi ide dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya Jawa di Kampung Samirono serta merupakan momen untuk mengapresiasikan seni budaya Jawa dan merefleksikan kemajuan seni budaya saat ini sebagai referensi di masa mendatang,” katanya. Read the rest of this entry »

Di bawah temaram sinar bulan separuh, suasana Kampung Samirono, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Sabtu malam (12/07) terlihat berbeda dari hari biasanya. Ratusan masyarakat kampung yang terdiri dari orang tua, remaja, dan anak-anak berkumpul sambi lesehan memenuhi halaman bangunan joglo, Balai Budaya Kampung Samirono. Bukan untuk peringatan tujuh belasan atau pemilihan ketua RT, malam itu masyarakat Kampung Samirono berkesempatan untuk menampilkan potensi budaya kampung yang identik dengan anak kos ini dalam rangka meramaikan Babad Kampung FKY XX 2008.

Sebuah panggung sederhana yang memanfaatkan ruang Balai Budaya Kampung Samirono sengaja dibuat sebagai tempat utama pentas kesenian yang akan menampilkan seluruh jenis kesenian yang hidup di kampung yang diapit Jalan Colombo, Jalan Prof. Yohanes, Jalan Urip Sumoharjo, dan Jalan Affandi tersebut. Read the rest of this entry »

BUKAN KAMPUNG ‘KAMPUNGAN’

Seorang wartawan media massa ditugaskan untuk melakukan riset profil kampung di wilayah Daerah Istemewa Yogyakarta. Kampung yang memiliki karakter modern, heterogen, dinamis, namun masih menyisakan ruang tepa slira, guyub rukun dan bombing: hidup bersanding budaya lokal.

Samirono, sebuah kampung di Desa Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman adalah sebuah kampung yang tepat untuk karakter tersebut. Samirono sebuah kampung berpagar Jalan Solo, Jalan Affandi, Jalan Herman Yohanes dan Jalan Colombo. Wilayah Sleman yang bersinggungan dengan wilayah Kota Yogyakarta, pinggiran tetapi berada di tengah, ramai namun tenang. Keras tapi damai. Kolot namun banyak kreatifitas yang lahir dari kampung itu.

Hari pertama riset, wartawan banyak bertanya tentang asal mula Kampung Samirono kepada beberapa narasumber, sesepuh, di Samirono. Dihari kedua, wartawan mulai aktif terlibat dalam pendokumentasian kesenian yang ada dan masih berlangsung di Samirono. Dia menghampiri tempat-tempat latihan dan terlibat diskusi dengan aktifis-aktifis pelaku seni yang ada. Memasuki hari ketiga, wartawan mengkhususkan untuk konsentrasi mengikuti latihan kethoprak. Pada hari ketiga ini, wartawan tertarik kepada salah satu gadis penari yang mengikuti latihan kethoprak, gadis ini adalah seorang anak kost yang aktif mengikuti kegiatan kethoprak di Kampung Samirono. Dan pada hari keempat, kehadiran wartawan di Samirono mulai menjadi bahan gunjingan, ada yang salut, ada yang mencibir, dan ada pula yang terang-terangan tidak mendukung aktifitasnya di Samirono. Peristiwa romantis wartawan dengan gadis penari kethoprak, lambat laun menjadi konflik internal di tubuh pelaku seni di Samirono, yang akhirnya menyebar menjadi konflik eksternal. Akhirnya, wartawan itu mengalah untuk menyingkir, daripada kehadirannya mengganggu kenyamanan dan kedamaian yang ada. Di hari lain, muncul beberapa berita di media yang mengangkat budaya tradisi Samirono untuk menjadi komoditi dan aset penting publisitas Samirono. Masyarakat Samirono pun akhirnya menyesali konflik dengan wartawan yang tanpa diduga ternyata turut membantu Samirono lebih dikenal publik.

Itulah cerita yang akan dipentaskan pada tanggal 12 Juli 2008 oleh Kampung Samirono dalam Babad Kampung FKY XX 2008. Naskah yang ditulis oleh Sugito HS, tersebut memeng diharapkan sanggup mengungkap beberapa hal yang menjadi sejarah Kampung Samirono, baik yang telah terjadi pada waktu lampau ataupun yang baru saja berlangsung. Read the rest of this entry »

Kiprah Kampung Samirono dalam Pembukaan FKY XX 2008

Kiprah Kampung Samirono dalam Pembukaan FKY XX 2008

YOGYAKARTA, SABTU – Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XX/2008 telah dibuka. Pembukaan dilakukan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X di depan Gedung Agung (Istana Negara) Yogyakarta pada Sabtu (7/6) petang dan disambut ribuan warga secara antusias. Jalan Malioboro hingga ujung selatan Jalan Ahmad Yani Yogyakarta terlihat dipadati warga. Mereka terlihat rela berdesak-desakkan untuk menyaksikan pawai kesenian sebagai bagian dari rangkaian acara pembukaan festival tahunan itu.

Sebanyak 15 kelompok, di antaranya kelompok kesenian dari sembilan kampung terpilih, marching band dari dua perguruan tinggi di Yogyakarta serta kelompok waria ikut memeriahkan pawai tersebut. Sesampainya di depan Gedung Agung atau depan Museum Benteng Vredeburg, kelompok- kelompok itu mempertontonkan atraksi mereka sesuai tema yang mereka usung di hadapan para tamu undangan termasuk Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Kelompok kesenian dari Kampung Samirono yang mengusung tema mencintai alam Indonesia, misalnya, menggambarkan Indonesia sebagai sosok Sinta yang terus-menerus dirongrong banyak buto (raksasa berjiwa kejam). Read the rest of this entry »

YOGYAKARTA, KAMIS – Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) Ke-20 Tahun 2008 yang dijadwalkan berlangsung 6 Juli hingga 3 Agustus akan melibatkan sembilan kampung untuk meriahkan festival tersebut.Kesembilan kampung itu akan dilibatkan dalam program ’Babad Kampung’ FKY 2008.

“Kesembilan kampung yang akan dilibatkan dalam program ’Babad Kampung’ FKY 2008 itu adalah Tukangan, Kricak Kidul, Pandean, Samirono, Mergangsan Kidul, Suryowijayan, Minggiran, Dolahan dan Pajeksan,” kata Humas FKY XX/2008 Rinda Maria di Yogyakarta, Kamis.

Ia mengatakan FKY 2008 akan menjadikan kampung sebagai salah satu titik tumpu utama, karena selama ini kampung selalu identik dengan sesuatu yang kumuh dan ketinggalan zaman, sehingga muncul persepsi yang menempatkan kampung sebagai korban modernisasi yang paling awal.

Menurut dia, kondisi tersebut dapat diubah dengan memposisikan kembali kampung sebagai bagian dari kota yang hidup, produktif dan kreatif.

Dalam program ’Babad Kampung’ ini, seni pertunjukan berfungsi sebagai media yang bisa berwujud seni kontemporer maupun seni tradisi. “Titik pentingnya adalah bagaimana masyarakat sebuah kampung memaknai masa lalu kampungnya, dan bagaimana mereka mengidentifikasi identitas mereka sebagai kelompok individu yang tinggal di sebuah kampung,” katanya. Read the rest of this entry »

Sifat dan Kepribadian

Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewa Ruci.

Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau Kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan Pupuk Pudak Jarot Asem. Read the rest of this entry »

Sifat dan kepribadian

Arjuna seorang kesatria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi brahmana di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan kesatria unggulan para dewa untuk membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Dewa Indra, bergelar Prabu Karitin. dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain: Gendewa (dari Bhatara Indra), Panah Ardadadali (dari Bhatara Kuwera), Panah Cundamanik (dari Bhatara Narada).

Arjuna memiliki sifat cerdik dan pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bharatayuddha, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia moksa (mati sempurna) bersama keempat saudaranya yang lain di gunung Himalaya. Read the rest of this entry »

Sadewa atau Sahadewa, adalah seorang protagonis dari wiracarita Mahabharata. Ia adalah seorang Pandawa pula, tetapi berbeda dengan Yudistira, Bima, dan Arjuna ia adalah putra Dewi Madrim, adik Dewi Kunti. Ia adalah saudara kembar Nakula dan dianggap penitisan Aswino, Dewa Kembar.

Sadewa pandai dalam ilmu astronomi yang ia pelajari di bawah bimbingan resi Drona. Sementara itu juga mengerti banyak mengenai penggembalaan sapi. Oleh karena itu ia bisa menyamar menjadi seorang gembala pada saat di negeri Wirata yang dikisahkan pada Wirataparwa. Selama masa penyamarannya di Kerajaan Matsya yang dipimpin Raja Wirata, Sadewa bertanggung jawab merawat sapi dan bersumpah akan membunuh Raja Gandhara, Sangkuni, yang telah memperdaya mereka sepanjang hidup. Ia berhasil memenuhi sumpahnya untuk membunuh Sangkuni, pada saat hari kedua menjelang perang Bharatayuddha berakhir. Read the rest of this entry »

Sarasehan Budaya di BBS DEPOK: Sarasehan budaya yang akan mengupas seputar tradisi Saparan akan digelar di Balai Budaya Samirono (BBS), Caturtunggal, Depok, Minggu (17/2). Akan dihadirkan narasumber HM Nasruddin Anshory Ch pengasuh pondok Pesan Trend Ilmu Giri serta nara sumber dari Sanggar Padmaya Yogyakarta. Ketua Panitia Kirwanto Bagong mengungkapkan sarasehan budaya digelar oleh Keluarga Muda-mudi Samirono Yogyakarta (KMSY) dalam rangka Gelar Kluwung Budaya Kampung 2008. Dikemukakan Kirwanto, Saparan yang oleh masyarakat dipahami sebagai bersih desa merupakan salah satu warisan budaya yang masih dilaksanakan di tengah himpitan budaya modern. Masih besarnya minat generasi muda untuk melestarikan budaya nenek moyangnya terbentur pada esensi dari kegiatan budaya itu sendiri. Pro dan kontra antara budaya dan agama ikut mengiringi proses generasi muda di Samirono untuk memahami seni tradisi. “Sarasehan tentang budaya Saparan ini muncul atas inisiatif dari generasi muda di Samirono yang gelisah akan seni tradisi,” kata Kirwanto.

Sumber:www.kr.co.id