Kirab Budaya Kluwung Budaya Kampung, Gelar Budaya saparan Samirono 2008

Kirab Budaya Kluwung Budaya Kampung, Gelar Budaya Saparan Samirono 2008

Ketika seorang pemuda ditanya, apa yang kamu lakukan terhadap budayamu?. Jawabannya adalah sebuah kebingungan. Harus diakui Budaya Agung nan Adiluhung yang pernah dimiliki orang Jawa, khususnya Yogyakarta bagi kaum muda adalah masa lalu yang bahkan tidak perlu. Tetapi bagi kaum muda di Padukuhan Samirono budaya jawa yang agung dan adiluhung adalah sebuah tantangan akan terjawabnya kebingungan dan kegelisahan: adalah sumber inspirasi yang sangat asyik, sangat indah, bahkan sangat mambanggakan.

Daerah Jawa sebagai Nagariagung yaitu pusat budaya keraton yang memiliki keistimewaan dan kekayaan sosial-budaya. Yogyakarta sebagai salah satu bagian dari keraton di Jawa, memiliki kehidupan yang mewarisi kehidupan budaya keraton atau budaya Jawa dalam setiap aktifitas masyarakatnya. Warisan budaya tersebut masih dijadikan sebagai pegangan hidup dalam mewujudkan masyarakat yang “njawani”.

Bolehlah kita menengok kebelakang sebentar. Menurut cerita dari para sesepuh, Samirono pernah memiliki suatu tradisi budaya yang sangat inspiratif dan adiluhung. “Budaya Saparan Merti Dusun” kata para sesepuh ketika bercerita pada para “Wiranem” (sebutan bagi kaum muda Jawa di Samirono). Tetapi seiring bergeraknya roda globalisasi, mulai sekitar tahun 70-an budaya itu tertidur panjang. Entah tertidur sendiri atau memang sengaja ditidurkan oleh suatu sistem, tetapi yang jelas Samirono pernah menjadi suatu kawasan budaya bahkan para pelaku-pelaku masa-masa kejayaan budaya di Samirono masih banyak yang ingin menikmati masa-masa seperti yang pernah mereka alami.

Berawal dari kegelisahan itu, setiap kali kami (kaum muda) bertemu dan bercengkrama selalu tak lepas dari pembahasan kegelisahan itu sendiri. Dan ketika kami ngomong ngalor-ngidul bahkan tak terasa kalau sudah mendekati subuh, muncullah suatu kata “KLUWUNG BUDAYA KAMPUNG”. Ide ini sebagai awal dari pemikiran tentang kegiatan pelestariaan (memetri) budaya sekaligus sebagai bentuk jawaban atas berbagai kegelisahan.

Dalam situasi yang serba tak pasti ini kami berfikir Kluwung Budaya Kampung dapat menjadikan suatu tontonan dan tuntunan bagi masyarakat. Memang ini menjadi suatu ironi dari carut marutnya republik ini. Bencana dimana-mana, tapi justru dari ironi itu pula Kluwung Budaya Kampung berjalan demi satu pengharapan dari masyarakat republik ini agar lepas dari segala bencana.

Pagelaran Kluwung Budaya Kampung ini merupakan manifestasi dari Gelar Budaya Saparan Merti Dusun. Dan kami mencoba memberi cara pandang yang berbeda dalam penampilannya. Jika beberapa tahun yang lalu selalu dengan pertunjukan wayang kulit, kali ini diwujudkan dalam bentuk multi budaya. Kami berfikir pelestarian budaya bukanlah hanya satu titik tetapi lebih dari seribu titik…….

Semoga perjuangan kami dalam melestarikan budaya yang Agung dan Adiluhung ini dapat menambah apresiasi warga masyarakat Samirono.

Mari bersama-sama melestarikan budaya bangsa, jangan biarkan anak-anak kita tidak mengenal dan melupakan budaya kita sendiri.

Bangsa ini akan dihormati karena kekayaan budayanya……..

Akankah kembali budaya kami?

Ataukah sampai disini…….