Di bawah temaram sinar bulan separuh, suasana Kampung Samirono, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Sabtu malam (12/07) terlihat berbeda dari hari biasanya. Ratusan masyarakat kampung yang terdiri dari orang tua, remaja, dan anak-anak berkumpul sambi lesehan memenuhi halaman bangunan joglo, Balai Budaya Kampung Samirono. Bukan untuk peringatan tujuh belasan atau pemilihan ketua RT, malam itu masyarakat Kampung Samirono berkesempatan untuk menampilkan potensi budaya kampung yang identik dengan anak kos ini dalam rangka meramaikan Babad Kampung FKY XX 2008.

Sebuah panggung sederhana yang memanfaatkan ruang Balai Budaya Kampung Samirono sengaja dibuat sebagai tempat utama pentas kesenian yang akan menampilkan seluruh jenis kesenian yang hidup di kampung yang diapit Jalan Colombo, Jalan Prof. Yohanes, Jalan Urip Sumoharjo, dan Jalan Affandi tersebut.

Gendhing Pangkur yang mengalun lewat pengrawit yang berada dari sisi kanan panggung mengawali pentas malam itu. Cengkok kental khas tembang Jawa berhasil diperagakan oleh pesinden yang remaja Kampung Samirono itu dengan merdu, hampir tak ada bedanya dengan sinden betulan. Tim pengrawit yang terdiri dari remaja dan beberapa orang tua ari Samirono juga bisa dibilang cukup kompak untuk ukuran grup amatir sebuah kampung.

Pentas dibuka oleh perbincangan antara Kepala Dukuh Samirono dengan seorang wartawan bernama Gunawan yang sedang melakukan liputan untuk membuat profil tentang Kampung Samirono yang heterogen dan dinamis, namun masih menyimpan budaya lokal. Dalam kegiatan liputannya, si wartawan ternyata malah kesengsem dengan seorang anak kos yang merupakan salah satu anggota pemain kethoprak di Kampung Samirono. Kehadiran dan kelakuan wartawan tersebut ternyata mendapatkan respon dari pemuda kampung. Kebersamaan Wawan (si wartawan -red) dengan salah satu gadis itu semakin hari dirasa semakin mengganggu situasi kampung khususnya kegiatan latihan kesenian kethoprak yang diikuti oleh gadis tersebut. Si gadis menjadi lebih sering pergi bersama dengan Wawan dari pada berlatih dengan teman-temannya. Atas dasar itulah, beberapa pemuda kampung berencana untuk mengusir Wawan yang kos di rumah pak Dukuh Samirono. Merasa telah membuat masalah, Wawan pun akhirnya meninggalkan rumah pak Dukuh dan Kampung Samirono. Namun sebelumnya, ia sempat menitipkan sesuatu yang ternyata adalah sebuah koran yang memuat cerita tentang Kampung Samirono yang kaya dengan potensi seni budayanya. Melihat hal tersebut, si gadis yang pada awalnya sedih karena ditinggal Wawan, akhirnya bahagia. Begitu pula pemuda kampung yang awalnya ingin mengusir Wawan pun akhirnya malah mengelu-elukan Wawan yang telah mengangkat Kampung Samirono.

Pada pentas seni yang bertema “Bukan Kampung Kampungan” itu, Kampung Samirono dengan sungguh-sungguh memamerkan seluruh kesenian yang ada di kampungnya dalam cerita yang naskahnya ditulis oleh Sugito Hs itu. Kethoprak, tari moderen, band, dan tari tradisional telah dipertontonkan oleh masyarakat Kampung Samirono dengan apik di Babad Kampung FKY XX 2008 ini. Usai pementasan, masyarakat dan pemain dapat menikmati hidangan angkringan dan bakso yang sebelumnya menjadi bagian dari pengisi cerita.

Sumber: http://gudeg.net